BUDIDAYA JAMUUR TIRAM & PENYEDIAAN BAGLOG JAMUR
SIDA BLEBERAN 23 Februari 2026 09:57:58 WIB
POTENSI KALURAHAN BLEBERAN
KAPANEWON PLAYEN KABUPATEN GUNUNGKIDUL
|
1 |
Kalurahan/Kecamatan/Kabupaten |
: |
Bleberan, Playen, Gunungkidul |
|
2 |
Judul POTENSI |
: |
Pemberdayaan Masyarakat dalam peningkatan ekonomi keluarga melalui Kelompok budidaya jamur tiram “JAMUR CENTER BLEBERAN” di Kalurahan Bleberan |
|
3 |
Contact Person |
: |
Bambang Fajarudin ( Lurah) Hp. 081233875545 Indardi (Carik) Hp. 081802641887 |
|
4 |
Latar belakang munculnya inovasi |
: |
Kalurahan Bleberan terdiri dari 11 Dusun yang merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan perkebunan. Sebagian besar masyarakatnya masih menggantungkan hidup pada hasil pertanian, baik sebagai petani penggarap maupun buruh tani. Namun demikian, perkembangan zaman dan perubahan kondisi sosial ekonomi menuntut masyarakat, baik itu pemuda milenial atau Gen Z termasuk perempuan, untuk lebih berdaya dalam mendukung ketahanan ekonomi keluarga salah satunya dengan usaha agribisnis budidaya jamur tiram yang menajdai satu satunya produk unggulan Kalurahan Bleberan. Kalurahan Bleberan merupakan Desa Percontohan “Saemaul Undong” kerjasama melalui Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Propinsi Gyoungsambukdo Korea Selatan mulai tahun 2015 – 2023 yang melatarbelakangi pendampingan pemberdayaan masyarakat dan melalui kerjasama tersebut kami mendapatkan hibah Bangunan GOR Saemaul Bleberan Tahun 2018 dan Gedung Jamur Center Tahun 2020 dan kami melaksanakan pemberdayaan masyarakat sebagai inovasi desa yaitu budidaya jamur tiram. Melihat Peran masyarakat yang semakin dinamis dan didukung dengan peluang bisnis agribisnis berupa budidaya jamur tiram menjadi salah satu andalan bagi masyarakat kami. dalam kegiatan pertanian selama ini sering kali hanya sebatas membantu, belum diarahkan pada kegiatan yang mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi kelompok perempuan, agar dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan keluarga. Melalui pembentukan dan pemberdayaan Kelompok Budidaya Jamur tiram yang dikelola BUMDes SEJAHTERA Pemerintah Kalurahan Bleberan berupaya menciptakan wadah bagi masyarakat untuk belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi lokal budidaya jamur tiram melalui jejaring dan kemitraan yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga dan peningkatan PAD Kalurahan melalui unit usaha Jamur tiram. Inovasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola jamur tiram tetapi juga olahan jamur, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan serta memperkuat peran perempuan dalam pembangunan pemberdayaan masyarakat di Kalurahan Bleberan Kegiatan pemberdayaan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, menciptakan produk unggulan desa, dan meningkatkan ekonomi lokal. Dengan adanya Petani jamur tiram di Kalurahan bleberan, masyarakat tidak hanya menjadi pelengkap dalam sektor pertanian, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi yang mandiri dan inovatif, sejalan dengan visi Kalurahan Bleberan yaitu “ Mewujudkan masyarakat Kalurahan Bleberan yang mandiri, kreatif, inovatif serta berbudaya untuk menuju kesejahteraan yang adil dan merata, berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan Norma-norma Agama” |
|
5 |
Maksud dan tujuan adanya inovasi |
: |
Adanya Program Inovasi ini dimaksudkan untuk menciptakan ruang partisipatif bagi masyarakat terutama perempuan dalam mengembangkan potensi pertanian lokal, meningkatkan kemampuan wirausaha, serta memperkuat kemandirian ekonomi keluarga melalui kegiatan produktif berbasis pertanian agribisnis budidaya jamur tiram Adapun tujuan adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan kapasitas dan keterampilan perempuan dalam bidang pertanian, pengolahan hasil tani, serta manajemen usaha kecil. 2. Mendorong kemandirian ekonomi keluarga melalui pengembangan usaha produktif yang dikelola oleh kelompok petani jamur dibawah BUMDes sebagai pengelola Jamur tiram bermitra degan petani jamur. 3. Mengoptimalkan potensi sumber daya lokal agar dapat memberikan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi masyarakat. 4. Menjadi tujuan study banding, study tiru dan wisata edukasi terintegrasi dengan pertanian dan peternakan di Kalurahan Bleberan berbasis kearifan local yang edukatif. 5. Menumbuhkan semangat gotong royong dan kolaborasi antaranggota kelompok dalam mengelola kegiatan pertanian yang berkelanjutan. 6. Meningkatkan peran serta perempuan dalam pembangunan desa, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. 7. Mewujudkan inovasi desa yang berkelanjutan, yang dapat menjadi contoh praktik baik (best practice) pemberdayaan perempuan di Kalurahan Bleberan. 8. Melalui BUMDes dengan unit usaha budidaya jamur tiram mampu memenuhi permintaan jamur tiram dan beglog jamur yang selama ini masih didominasi dari luar Gunungkidul. 9. Mengintegrasikan segala potensi yang ada di Kalurahan Bleberan yaitu peternakan komunal andini mulyo, KWT Sri Agung dan Greenhouse, pelaku UMKM dan tentunya Desa wisata berupa objek wisata srigethuk dan Gua rancang Kencana dengan paket wisata edukasi dan wisata agro akan mampu mendongkrak pendapatan masyarakat dan peningkatan PAD Kalurahan dan menjadi pilihan destinasi wisata berbasis kearifan local Kalurahan |
|
6 |
Kondisi implementasi inovasi saat ini |
: |
Perempuan seringkali dianggap hanya sebagai kaum yang lemah, emosional, dan perannya sebatas pada urusan domestik atau rumah tangga. Stereotip dan pandangan tradisional ini mengabaikan potensi dan kontribusi perempuan di berbagai bidang kehidupan. Khususnya di pedesaan dimana perempuan dalam sektor pertanian hanya sekadar membantu dan tidak dianggap memiliki kontribusi besar dalam ekonomi keluarga. Beberapa kegiatan utama yang telah diimplementasikan meliputi pelatihan budidaya jamur tiram, pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah seperti olahan makanan dan minuman herbal, serta kegiatan pemasaran produk melalui media sosial. Melalui kegiatan tersebut, anggota kelompok mulai memiliki kemampuan dasar dalam manajemen usaha kecil, pengemasan produk, dan pengelolaan keuangan sederhana. Dari segi dukungan, Pemerintah Kalurahan Bleberan turut berperan aktif melalui penyediaan tanah kas desa untuk menjadi lahan pertanian yang digunakan oleh untuk budidaya jamur tiram dengan bangunan kumbung serta fasilitasi sarana pendukung seperti peralatan pertanian sederhana, bahan tanam, dan akses pelatihan kerja sama dengan pihak ketiga (seperti penyuluh pertanian dan lembaga pelatihan perempuan). Dukungan ini semakin memperkuat eksistensi Kelompok petani budidaya jamur tiram sebagai motor penggerak pemberdayaan perempuan di tingkat padukuhan. Meski demikian, masih terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaan kegiatan, seperti keterbatasan modal usaha, kurangnya fasilitas pemasaran yang berkelanjutan, serta perlunya peningkatan kapasitas anggota dalam manajemen produksi dan digitalisasi pemasaran. Namun, semangat dan partisipasi aktif para anggota menjadi modal sosial yang kuat untuk terus mengembangkan inovasi ini ke arah yang lebih maju. |
|
7 |
Dampak yang muncul setelah ada inovasi |
: |
Pelaksanaan inovasi Pemberdayaan Kelompok petani Jamur di Kalurahan Bleberan memberikan berbagai dampak sosial yang positif bagi masyarakat, khususnya bagi perempuan dan keluarga di lingkungan sekitar. Inovasi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan ekonomi, tetapi juga pada penguatan hubungan sosial, peningkatan partisipasi masyarakat, serta perubahan pola pikir menuju kemandirian dan kebersamaan. Beberapa dampak sosial yang dapat diamati antara lain: 1. Peningkatan Peran Perempuan dalam Masyarakat Melalui Kelompok petani Jamur tiram di Kalurahan Bleberan kini memiliki ruang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemberdayaan di bidang ekonomi. Mereka tidak lagi hanya berperan di ranah lingkungan dusun, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat.
2. Penguatan Solidaritas dan Gotong Royong Kegiatan kelompok mendorong terciptanya solidaritas sosial antar anggota. Semangat gotong royong, saling membantu, dan berbagi pengetahuan tumbuh kembali di tengah masyarakat. Hal ini mempererat hubungan antar warga dan meningkatkan rasa kebersamaan.
3. Meningkatnya Kepercayaan Diri dan Kemandirian Perempuan Melalui pelatihan dan kegiatan produktif, anggota Petani Jamur menjadi lebih percaya diri dalam mengelola usaha, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan pihak luar. Kepercayaan diri ini menjadi modal penting bagi peningkatan kualitas hidup perempuan di pedesaan.
4. Perubahan Pola Pikir Masyarakat terhadap Peran Gender Adanya inovasi ini turut mengubah pandangan masyarakat bahwa perempuan juga mampu berperan strategis dalam pembangunan dan ekonomi lokal. Kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dalam kegiatan sosial-ekonomi semakin diakui dan diterima.
5. Terbangunnya Kesadaran Kolektif terhadap Lingkungan dan Ketahanan Pangan Kegiatan pertanian organik dan pengelolaan lahan bersama menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya menjaga lingkungan serta memperkuat ketahanan pangan keluarga dan masyarakat.
6. Peningkatan Partisipasi dalam Kegiatan Kalurahan Petani Jamur kini lebih aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan dan program pemerintah kalurahan. Mereka turut menjadi mitra pemerintah desa dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat. Secara keseluruhan, inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menciptakan perubahan sosial yang mendalam — membangun masyarakat yang lebih inklusif, berdaya, dan solid, sejalan dengan visi Kalurahan Bleberan. |
|
8 |
Tahun mulai implementasi inovasi |
: |
2022 |
|
9 |
Tahun berakhir pembinaan inovasi |
: |
2028 |
|
10 |
Rencana aksi dari tahun mulai s.d berakhir (aktivitas, target, dan anggaran) |
: |
Tahun 2022 Aktivitas : 1. Penguatan Dasar edukasi dan motivasi bagi petani jamur dan Kapasitas produksi baglog jamur semakin meningkat 2. Pengembangan Produk dan olahan jamur yang sampai saat ini belum ada rumah makan ataupun kuliner yang spesifik dengan menu dasar jamur dan itu menjadi peluang yang sangat prospektif di Gunungkidul khususnya di Kalurahan Bleberan 3. Peningkatan partisipasi dan minat sebagai kelompok petani budidaya jamur tiram. Target : 1. 100% anggota memahami dasar pengelolaan, perawatan dan pemasaran 2. Terbentuk sistem administrasi dan kegiatan rutin Kelompok budidaya jamur tiram 3. 80% hasil panen dapat diserap oleh pasar lokal. 4. Terdapat produk produk olahan berbahan dasar jamur tiram sebagai oleh –oleh khas local Bleberan yang dihasilkan dan dipasarkan kepada konsumen Anggaran :Rp. 100.000.000,00
Tahun 2025 Aktivitas : 1. Penguatan Kelembagaan dan peningkatan kapasitas petani jamur untuk mendukung ketahanan pangan secara terpadu. 2. Pengembangan Produk dan Diversifikasi Usaha Target : 1. Kegiatan produksi berjalan rutin dan menghasilkan tambahan pendapatan bagi anggota. 2. Terdapat siklus panen hasil pertanian secara rutin. 3. Terdapat produk produk olahan jamur tiram lokal dihasilkan dan dipasarkan. 4. Stimulan baglog jamur tiram bagi petani yang mampu meningkatkan volume produksi jamur tiram Anggaran :Rp. 33.000.000
Tahun 2027 Aktivitas : 1. Penguatan Skala Produksi luasan pemasaran dan kuantitas produksi terintegrasi dengan potensi baik itu peternakan, pertanian dan holtikultura 2. Pemasaran dan Digitalisasi dengan mendorong Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di semua Padukuhan Target : 1. Kelompok petani jamur memiliki unit usaha produktif yang berkelanjutan. 2. Omset kelompok meningkat minimal 30% dari tahun sebelumnya. 3. Produk –produk olahan jamur dikenal di tingkat Kalurahan, Kapanewon dan Wilayah Gunungkidul dan bisa memasok kebutuhan jamur tiram 4. Terbentuk kanal akun marketplace/online shop sederhana. Anggaran :Rp. 100.000.000,00
Tahun 2028 Aktivitas : 1. Kemandiriran Kelompok 2. Replikasi Program Target : 1. Kelompok Budidaya Jamur tiram menjadi kelompok percontohan pemberdayaan perempuan di Kalurahan Bleberan. 2. Replikasi inovasi di semua Dusun dan pengimbasan potensi usaha jamur tiram di Kalurahan yang ada di wilayah Kabupaten Gunungkidul 3. Terwujudnya kemandirian ekonomi keluarga peningkatan kapasitas kelompok petani jamur pemberdayaan masyarakat dan
Anggaran :Rp. 100.000.000 |
|
11 |
Stakeholder yang terlibat |
: |
1. Pemerintah Kalurahan Bleberan. · Sebagai inisiator dan fasilitator utama dalam pembentukan serta pembinaan kelompok petani jamur tiram · Memberikan dukungan kebijakan, fasilitasi anggaran, dan pendampingan administratif melalui perangkat kalurahan. · Melakukan monitoring dan evaluasi rutin terhadap petani jamur · Menjalin kerja sama lintas lembaga untuk memperluas akses bantuan dan pelatihan. · Sebagai desa wisata maka budidaya jamur tiram melengkapi potensi yang sudah ada.
2. Kelompok petani jamur · Menjadi pelaksana utama inovasi, melaksanakan kegiatan pertanian, pengolahan hasil tani, dan usaha produktif. · Mengelola organisasi secara mandiri, termasuk perencanaan kegiatan, pencatatan keuangan, dan evaluasi hasil kerja. · Menjadi agen perubahan sosial yang mendorong peran aktif perempuan dalam pembangunan desa.
3. Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan · PKK Kalurahan Bleberan: mendukung kegiatan pemberdayaan perempuan dan rumah tangga, serta menjadi mitra dalam pelatihan keterampilan dan kegiatan sosial. · BUMDes Kalurahan Bleberan: berperan dalam membantu pemasaran produk olahan dan paket penjuakan jamur tiram dan potensi kerja sama dalam pengelolaan unit usaha bersama. · Karang Taruna dan LPMK: membantu aspek promosi, pemasaran digital, dan kegiatan kolaboratif lintas kelompok. · Kapanewon Playen dan juga Lembaga Kalurahan Bleberan
4. Dinas dan Lembaga Pemerintah Terkait · Dinas Pertanian Kabupaten: memberikan penyuluhan teknis, bantuan benih, pupuk organik, serta pelatihan peningkatan kapasitas petani perempuan. · Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK): memberikan dukungan program pemberdayaan dan fasilitasi kemitraan lintas sektor. · Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop): membantu dalam pengurusan izin usaha, pengemasan produk, dan pelatihan kewirausahaan.
5. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pendamping Desa · Memberikan bimbingan teknis mengenai teknik budidaya, pengolahan hasil, dan pengelolaan usaha tani. · Melakukan pendampingan rutin terhadap anggota kelompok petani jamur dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.
6. Perguruan Tinggi / Lembaga Pendidikan · Menjadi mitra pengetahuan dan inovasi teknologi, misalnya dalam penelitian, pengembangan produk, atau desain kemasan. · Sebagai objek penelitian lapangan dalam program KKN ataupun pengabdian masyarakat untuk membantu penguatan kelompok maupun produk di kelompok petani jamur
7. Sektor Swasta dan Dunia Usaha · Menjadi mitra pemasaran dan pembeli potensial produk olahan petani jamur dengan budidaya dan olahanya. · Menyediakan dukungan CSR (Corporate Social Responsibility) berupa pelatihan kewirausahaan, bantuan alat produksi, atau modal usaha kecil.
8. Masyarakat padukuhan yang memiliki potensi wiasat dan agro pertanian · Mendukung kegiatan kelompok budidaya jamur tiram secara sosial dan moral melalui partisipasi aktif, konsumsi produk lokal, serta gotong royong dalam kegiatan kelompok. · Menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang diharapkan tumbuh bersama dengan berkembangnya Kelompok budidaya jamur tiram. |
|
12 |
Sumber daya yang tersedia |
: |
1. Sumber Daya Manusia · Anggota kelompok budidaya jamur yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan perempuan tani dengan semangat tinggi untuk belajar dan berwirausaha. · Pemerintah Kalurahan Bleberan yang aktif memberikan pendampingan dan dukungan kebijakan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui BUMDes · Pendamping desa dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang berperan dalam memberikan bimbingan teknis terkait budidaya dan pengolahan hasil budidaya jamur; · Para pengepul yang menerima pasokan jamur tiram yang membantu dalam bidang pemasaran dan masih sangat besar pemenuhan kebutuhan jamur tiram setiap hari apalagi dengan adanya Program Makan Gratis (MBG) yang salah satu menunya jamur tiram kami masih kewalahan dalam memenuhi permintaan pasar; · Gedung produksi media tanam jamur tiram yaitu Jamur Center Bleberan yang setiap hari memproduksi Beglog jamur yang telah melayani pemesanan antar Kalurahan di wilayah Gunungkidul bahkan ada beberapa Kalurahan di Gunungkidul mengadakan program ketahan pangan dengan membeli beglog jamur tiram dari Kalurahan Bleberan
2. Sumber Daya Alam · Lahan dan pekarangan warga yang masih luas dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tanaman sayuran, toga, serta tanaman produktif lainnya berdampingan dengan Kumbung Jamur · Ketersediaan air yang memadai dari SPAM Kalurahan dan irigasi sederhana, sehingga mendukung kegiatan pertanian dan budidaya jamur sepanjang tahun · Permintaan pasar untuk oleh oleh khas jamur yang potensial dikembangkan menjadi produk unggulan dan bisa di optimalkan lagi
3. Sumber Daya Sarana dan Prasarana · Peralatan pertanian sederhana (rak jamur, sprayer, alat angkut, dan bibit jamur) yang telah dimiliki kelompok dan sebagian disubsidi oleh pemerintah kalurahan. · Gedung Jamur Center yang didalamnya terdapat ruang pertemuan dan kantor, ruang display produk olahan dan dapur olahan yang sangat luas dan ruang produksi yang digunakan untuk kegiatan pertemuan, pelatihan, dan pengolahan produk. · Terdapat 3 unit Kumbung besar yang baik, memudahkan pemeliharaan beglog dalam jumlah yang sangat besar · Akses internet dan media sosial, yang dimanfaatkan untuk promosi produk secara digital.
4. Sumber Daya Kelembagaan · Melalui unit usaha jamur BUMDes SEJAHTERA sebagai lembaga inti pelaksana inovasi dengan struktur kepengurusan yang aktif. · Lembaga kemasyarakatan desa (PKK, Karang Taruna, dan Koprasi Merah Putih (KDMP)) yang dapat menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan dan pengembangan usaha. · Jaringan kerja sama eksternal, seperti dengan dinas pertanian, lembaga pelatihan Lembaga swasta melalui CSR Akademisi, dan kelompok usaha kecil di sekitar Kalurahan Bleberan dan sekitarnya.
5. Sumber Daya Pendukung Kebijakan dan Keuangan · Dukungan dari pemerintah kalurahan melalui APBKal untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. · Kemungkinan akses bantuan program dari pemerintah kabupaten atau provinsi, seperti Bantuan Keuangan Khusus (BKK), bantuan sarana pertanian, pelatihan, dan modal usaha produktif. · Partisipasi masyarakat dan swadaya anggota, yang menjadi kekuatan sosial dan ekonomi untuk menjaga keberlanjutan kegiatan. |
|
13 |
Identifikasi masalah/tantangan yang dihadapi |
: |
1. Masalah Internal Kelompok · Kapasitas anggota yang belum merata. Tidak semua anggota memiliki kemampuan yang sama dalam hal budidaya, pengolahan produk, maupun manajemen usaha. Hal ini menyebabkan perbedaan produktivitas dan keterlibatan antar anggota. · Manajemen organisasi masih sederhana. Pengelolaan administrasi, keuangan, dan perencanaan kegiatan belum tertata secara profesional. Belum ada sistem dokumentasi dan pelaporan kegiatan yang konsisten. · Keterbatasan modal usaha. Modal awal yang dimiliki kelompok relatif kecil, sehingga membatasi kemampuan untuk memperluas produksi, memperbaiki kemasan, atau membeli alat pendukung yang lebih efisien. · Kurangnya regenerasi dan kaderisasi. Partisipasi generasi muda dalam kelompok masih rendah, sehingga kegiatan masih didominasi oleh anggota usia dewasa dan lanjut.
2. Masalah Eksternal · Akses pasar yang terbatas. Produk hasil olahan pertanian dari petani jamur masih dijual di lingkungan sekitar, belum menjangkau pasar yang lebih luas karena keterbatasan jaringan pemasaran dan promosi dan stok jamur fres yang belum mencapai target · Kurangnya fasilitas pemasaran digital. Pemanfaatan media sosial dan platform daring masih belum optimal akibat keterbatasan pengetahuan digital dan infrastruktur pendukung. · Ketergantungan pada saat saat tertentu serbuk graji sebagai bahan dasar beglog jamur terkadang belum terpenuhi secara rutin sehingga produktivitas belum stabil sepanjang tahun. · Persaingan dengan produk pabrikan. Produk olahan lokal masih kalah dalam hal kemasan, konsistensi kualitas, dan daya saing harga dibanding produk industri yang sudah mapan.
3. Tantangan Jangka Panjang · Menjaga keberlanjutan kegiatan kelompok. Tantangan terbesar adalah menjaga semangat anggota agar kegiatan tetap berjalan meski tanpa bantuan eksternal. Diperlukan inovasi dan strategi keberlanjutan jangka panjang. · Peningkatan kualitas dan legalitas produk. Diperlukan peningkatan standar mutu, izin PIRT, dan sertifikasi halal agar produk KWT dapat bersaing di pasar yang lebih luas. · Kolaborasi lintas sektor. Masih perlu memperkuat sinergi antara Pemerintah Kalurahan, lembaga pelatihan, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperluas dampak inovasi. · Adaptasi terhadap perkembangan. teknologi. Perubahan pola konsumsi dan pemasaran yang semakin digital menuntut kelompok untuk terus belajar dan beradaptasi agar tidak tertinggal. |
|
14 |
Rencana pembinaan inovasi |
: |
1. Pembinaan dari Pemerintah Kalurahan · Pendampingan kelembagaan dan administrasi kelompok. · Fasilitasi pelatihan dan bantuan sarana. · Monitoring dan evaluasi berkala.
2. Pembinaan Teknis dan Kapasitas Anggota · Kerja sama dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL). · Pelatihan pengolahan hasil pertanian dan kewirausahaan. · Peningkatan literasi digital. 3. Pembinaan Kelembagaan · Pendampingan dari BUMDes dan PKK Kalurahan. · Kemitraan dengan pelaku usaha dan Koprasi Merah Putih (KDMP) · Partisipasi dalam forum atau jaringan antar komunitas petani jamur dan pelaku usaha jamur tiram 4. Pembinaan Motivasi dan Keberlanjutan · Peningkatan semangat dan rasa memiliki terhadap kelompok. · Regenerasi anggota dan kaderisasi kepemimpinan. · Penguatan nilai sosial dan lingkungan. 5. Pembinaan oleh Mitra Eksternal · Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. · Dukungan lembaga keuangan mikro atau CSR. · Komunitas petani milenial, pecinta budidaya jamur dan juga bermitra kepada SPPG untuk pemenuhan MBG degan menu jamur tiram yang kaya akan Gizi. |
|
15 |
Bukti inovasi |
: |
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- BUDIDAYA JAMUUR TIRAM & PENYEDIAAN BAGLOG JAMUR
- RAT TAHUN BUKU 2025 KDMP KALURAHAN BLEBERAN
- LPJ APBKAL TAHUN 2025 KALURAHAN BLEBERAN
- PENETAPAN APBKAL KALURAHAN BLEBERAN TAHUN ANGGARAN 2026
- PEMBAGIAN BLT DD KE 12 KALURAHAN BLEBERAN
- KEGIATAN RAPAT KERJA KETAHANAN PANGAN DI KALURAHAN BLEBERAN TAHUN 2025

.jpeg)
.jpeg)













